Bacaan yang baik untuk seorang guru

Ketahuilah, setiap saat orang perlu mencari referensi apik untuknya agar bisa menjalani hidup tanpa takut dan tanpa ragu. Inilah nilai yang aku percaya. Hal ini tidak mungkin lagi dielakkan. Aku sudah terbiasa dengan adat yang melek bacaan ini.

Ternyata aku sependapat dengan Gus Dur yang bilang “tidak perlu dituliskan” saja. Apa saja yang bisa dilafalkan di pikiran dan di hati, itulah bacaan. Tentu saja, pada taraf yang masih latihan lisan harus bisa mengucapkan dan melafalkan bacaan-bacaan itu. Kata demi kata yang melintas di pikiran adalah bacaan. Kalimat yang berkesan cukup dalam di hati adalah bacaan pula. Bibir yang dengan tegas menyuarakan adalah bukti ketegasan bacaan hidup kita.

Jangan pernah bermain-main dengan pikiran dan hati. Karena kita adalah manusia, maka hati dan pikiran adalah sarana protokoler yang mengarahkan acara kehidupan entah maunya bahagia atau bahagia selamanya.

Ingat dengan ungkapan “Garbage In, Garbage Out!” yang pernah terdengar pertama kali sewaktu belajar teknologi informatika? Hidup ini sejalan saja. Begitu baik yang menjadi umpan, maka baik pula ikan yang didapat. Kalau buruk? Jangan berharap dengan yang baik-baik. Mengalirkan kata-kata yang baik adalah sesuatu yang sangat dianjurkan.

Pilihlah bacaan yang baik. Kenapa sih? Bayangkan dengan orang-orang yang suka sekali mengumpat. Apa sih yang dia ucapkan kalau dia sedang marah? Kampret! Sontoloyo! Monyet! Kerbau! Anjing! Kodok! Cebong! Genderuwo! Wah, jadi ahli ruapanya. Semua yang buruk akan berdatang dan efeknya akan membuat pikiran lebih kalut. Semakin tidak suka. Semakin marah. Semakin benci saja. Padahal, kata-kata yang keluar dari mulut seseorang adalah cerminan apa yang ada di hati dan pikiran. Kalau sukanya itu hanya umpatan-umpatan kasar, berarti kita ini orang yang kasar juga.

Peringatan bersahaja saja. Jangan mengumpat.

Sekarang ini menjadi titik balik. Aku jadi kepikiran kata-kata baik apa yang seharusnya menjadi perbendaharaan hidup kita sehari-hari. Jangan sekarang, ah! Aku masih harus berpikir dulu. Aku perlu mencari referensi juga.

balance business cobblestone conceptual
Photo by Pixabay on Pexels.com

Author: nugrohokhoironi

Pembelajar hidup yang tak boleh berhenti, apapun jadinya. Perjalanan ini masih sangat dan tak akan pernah mencapai tujuan yang ditetapkan kalau hanya ditempuh dengan keluh kesah dan putus harapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: