Mengukur ketidakwarasan, setelah 19 bulan tidak bersekolah

Tidak ada yang tahu kalau aku mengalami sindrom hari Senin. Ada kecemasan dan rasa takut untuk menghadapi hari-hari kerja sebagai pegawai negeri. Sekolah tempat dinasku yang berada di Jl. Mongindisi 160, Desa Sukorejo, kecamatan kota Bojonegoro tidak lagi memberi kebanggaan dalam kurun waktu 19 bulan berjalan. Aku “diusir” kepala sekolah saat itu. Setelah itu aku hanya “lontang-lantung persis wong mbambung”. Sebenarnya aku merasakan kesedihan yang sangat setiap harinya, bahkan setiap detik pikiranku pun terpaku pada satu masalah, “Kapan aku bisa kembali ke kelas?” Pagi hari ini istriku sempat mengingatkan, “Jangan bermimpi.”

Stress, depresi, dan frustasi adalah tiga kata sandang untuk orang mengalami masalah kejiwaan. Banyak orang yang mengalaminya. Aku tidak pernah bermimpi untuk ikut-ikutan dalam kelompok mereka. Sudah menjadi masalah yang klise kalau aku terus saja teringat kondisi “pengangguran” yang aku alami. Sementara usahaku untuk meluruskan permasalahan “perselisihan” di sekolah dan di kantor Jl. Patimura sudah aku tempuh. Aku memang menjadi bosan untuk berpikir adanya keajaiban dari pihak yang menuduh aku “tidak waras”. Bagaimana tidak aku katakan begitu? Dia adalah orang yang sudah mengintimidasi istri dan keluargaku di Surabaya agar aku segera dibawa berobat ke rumah sakit jiwa. Mungkin mereka berhasil membingungkan semua orang. Namun, aku yang menjadi “korban” dalam persoalan ini bersikukuh bahwa aku masih “waras”.

Setiap hari aku harus berpura-pura sebagai pegawai negeri sipil. Aku menggunakan baju seragam dan atribut layaknya mereka yang aktif dinasnya. Setelah berualng kali pemindahan tempat kerja–kantor pendma, MA Ibnu Hajar Bendo, kantor pendma, dan berujung ke MTsN Kepohbaru, aku sama sekali tidak mendapatkan porsi tugas yang jelas. Istilah tukang becak yang sempat aku dengar untuk kondisi ini adalah “ora sepiro kanggo”. Perjalanan hidup seperti ini sangat berat. Saat terakhir aku berusaha memberi penjelasan kepada kasubag TU di kantor kemenag, katanya aku harus istiqomah. Apa artinya? Aku diminta tetap pergi ke MTsN Kepohbaru, apa pun resikonya. Dalam hati dan juga sudah aku katakan kepadanya, “Ini sangat berat di ongkos. Kalau misalkan aku mendapatkan tugas mengajar, barangkali aku bisa siap menjalani. Ternyata di sana aku tidak diberi tugas mengajar. Kepala sekolah juga berharap aku meminta ditempatkan lagi di kantor atau di mana saja yang dekat dengan rumah”. Aku tidak memahami dasar pemikiran mereka semua. Sementara aku masih merasa perlunya sehat badan, pikiran dan perasaan. Aku maunya tetap waras dengan tidak bingung setiap hari seperti ini.

Prasangka dan tuduhan tentang ketidakwarasan yang aku alami ini selama ini sangat jelas. Ada seorang karyawan di kantor itu yang sering menyapa dengan sapaan yang aneh bagiku, “Waras ta?” Itu berulang-ulang diucapkan. Di pagi hari ini juga, aku sudah mendapat ucapan selamat pagi dengan pertanyaan, “Buat apa datang pagi-pagi?” Aku jadi bertanya, buat apa lagi hidup seperti ini.

f9174df73f60feec3a6c3f63f49e660eAku mengingat kembali pernyataan seorang teman di sana, “Sampeyan iki apa? Kalau memang guru kenapa tidak mengajar di sekolah. Kalau memang staff kantor, kenapa juga tidak pernah memegang pekerjaan apa-apa di kantor?” Orang ini benar dalam pernyataannya. Aku tidak berperanan seperti layaknya seorang guru. Saat itu aku berpikir kalau masa transisi adalah masanya beradaptasi. Ternyata tidak benar.

Ada rekayasa pembunuhan karakter dalam kasus yang aku alami. Segala prasangka mereka itu memang sengaja dipasang agar aku menjadi “gila” dan pasti akan menjadi tidak waras. Mereka tentu saja orang luar biasa benarnya. Buktinya, mereka sedang menjalani ibadah haji. Mereka orang-orang yang suci dalam semua perbuatan mereka. Sementara aku, bingung sendiri di sini.

Kota ini memang tidak memberikan keadilan bagiku. Aku mampir di sini bukan hanya untuk minum kopi. Aku mengabdikan hidup dan sudah membina rumah tangga. Patut disyukuri ada tiga anak yang semua bersekolah di Bojonegoro ini. Anakku yang pertama sedang kuliah di UIN Sunan Ampel. Anak kedua, yang suka sepak bola, bersekolah di SMAN 2 Bojonegoro. Anak terakhir masih kelas 5 di MIN Kepatihan. Bapaknya saja yang harus bingung plus linglung karena tidak bersekolah seperti mereka. Jadilah aku saat ini sebagai seorang bapak yang tidak bekerja. Aku adalah guru yang “tidak berguna”.

Aku agak heran dengan sistem birokrasi di kantor. Aku juga heran bagaimana mereka juga mengajari istrinya untuk berkata-kata setelah keputusan “mengambang” agar aku mengalami sindrom “pengangguran” ini. Ada yang bilang, “Sampeyan kan masih dapat gaji setiap bulannya!” Apa artinya kata-kata itu? Mantan kepala sekolah yang sekarang berdinas di Rengel juga bilang, “Kalau di kantor, bapak akan bisa mendapat tunjangan kinerja.” Ada lagi yang mengatakan dengan tegasnya, “Sampeyan gak usah bingung. Ini masalah biasa di kantor. Ambil gampangnya saja, habis absen sampeyan pulang untuk memberi makan ayam. Nanti kalau sore datang lagi ke kantor untuk absen. Tidak usah dipikir “seru-seru”. Jalani saja”.

Aku sudah makan bangku sekolah sekian lama. Apa yang aku hadapi sekarang ini tidak pernah menjadi persoalan yang diujikan selama di SD, SMP, SMA, perguran tinggi dan pasca sarjana. Aku masih bersekolah dengan menjalani tugas sebagai guru selama 23 tahun. Tidak pernah dipertanyakan. Bagaimana sikap guru kalau dianggap tidak waras? Ini baru aku saja yang mengalami pertanyaan ini sekarang.

Aku akan selalu ingat kejadian demi kejadian yang ada sampai aku berposisi seperti sekarang. Sementara itu, aku masih saja membaca buku-buku tentang pembelajaran bahasa Inggris. Obsesi menjadi guru masih sangat kuat. Apa saja yang aku lakukan agar tetap waras? Aku tidak membingungkan semua pandangan salah yang sempat terlontar di sekolah, di kantor dan di lingkungan keluarga atau tetangga. Aku memilih kata-kata yang benar agar aku masih bisa beraktivitas sehari-hari dengan normal. Memang tidak lagi bekerja di sekolah seperti layaknya. Aku hanya bertugas menjaga pikiran sehat. Ini aku lakukan dengan menulis. Aku bertugas menjaga hati agar tidak terlalu sedih dengan ujian hidup ini dengan masih rajin membaca Al-Quran dan sholat lima waktu. Aku wajib menjaga gengsi di hadapan Allah yang mengetahui semua kejadian di atas muka bumi ini. Oleh karena itu, aku berkeyakinan bahwa mereka yang menyakiti perasaan dan juga membunuh karakter sesama muslim itu adalah orang-orang yang lupa. Hanya Allah yang bisa memberi peringatan kepada mereka. Aku sudah berusaha layaknya manusia. Terserah Allah saja.

Author: Secangkir Kopi

Aku? Tidak ada bedanya dengan orang lainnya. Aku manusia dedel kata temanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: