Refleksi diri, bukan merenungi nasib

Banyak dasarnya kalau suatu saat kita terpaksa bolak-balik ke masa lalu dan melihat kembali rapor kehidupan kita. Kegiatan ini bahkan sering dianjurkan dalam program pengembangan diri. Kita selalu diharapkan bisa merenung, berintropeksi dan melakukan refleksi agar lebih memahami hikmah apa yang perlu diambil sebagai pelajaran di balik berbagai macam peristiwa hidup kita.

Merenungkan kembali masa lalu kita bukanlah untuk menyesali diri dan tidak berkeinginan untuk melangkah maju menggapai masa depan. Kegiatan ini bukanlah merenungi nasib. Adalah menjadi pantangan bagi kita yang berakal untuk berputus asa dan menyerah kepada suratan takdir. Dengan banyak mengingat kembali kenangan di masa lalu, kita berharap bahwa hal-hal yang buruk tidak kembali kita ulangi di masa depan. Cukuplah bila pada kenyataan kita telah berbuat salah, saat ini juga waktunya kita bangkit merencanakan ‘something positive‘ agar kesalahan hidup itu terbalaskan dengan kebaikan. Tidak baik bila tidak pernah menyadari kesalahan yang pernah kita perbuat.

Ada banyak hal yang baik juga telah sempat kita lakukan di masa lalu. Bukan hanya sekedar untuk membangga-banggakan tentang kebaikan tersebut, tetapi kita perlu merencanakan hal-hal baru agar kebaikan itu tidak lenyap, dan agar kita bisa lebih meningkatkannya. Yang terpenting bukan besar atau kecilnya kebaikan yang berhasil kita torehkan dalam sejarah kehidupan. Dari niatan positif, kita beranjak menuju prospek kehidupan yang semakin lapang penuh kebahagiaan.

Kalau kita alpa melakukan refleksi diri, kontrol terhadap perjalanan hidup kita akan mengambang dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sering kali juga kita melihat diri kita melakukan sebuah kebaikan, namun banyak orang yang mengingatkan kita tentang kesalahan tafsir pribadi kita, maka pada momentum seperti itu pula kita perlu merenung, bertafakur. Usaha kita haruslah untuk lebih mengenali diri kita sendiri, sebab dengan mengenali diri sendiri kita bisa berharap mengenali Tuhan yang Maha Berkehendak. Kita hanya merupakan salah satu mata rantai kehidupan dari sebuah jaringan yang luas. Kita tidak boleh hanya berkeluh kesah. Masih banyak hal yang harus kita jalani untuk kehidupan di masa mendatang.

Sekecil apapun kebaikan yang pernah kita tetapkan sebagai amalan, yang penting kita bisa beristiqomah. Menuju kebaikan adalah cita-cita semua orang, meskipun banyak yang lupa lantaran begitu besarnya godaan dunia. Kebaikan demi kebaikan perlu terus kita jalani. Tidak boleh ada kata berhenti.

Tidak layak kalau kita terpontang-panting menuruti arus perubahan yang bukan menjadi jalan kebaikan. Tidak benar kalau kita hanya mengikuti arus. Sebagai pribadi, kita akan lebih berarti apabila memiliki pendirian yang kuat. Bukan karena kita merasa antipati terhadap perubahan! Jelas bukan pula karena rasa takut yang kuat, khawatir tidak kebagian ‘roti perubahan’, lalu kita mati-matian mengubah diri meskipun tidak jelas tujuannya. Refleksi diri adalah bagian nyata dalam kehidupan.

Author: Secangkir Kopi

Aku? Tidak ada bedanya dengan orang lainnya. Aku manusia dedel kata temanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: