Tadinya aku mencoba menulis. Tapi waktu aku publish malah gagal

Dari sebuah film di facebook, aku mengambil sebuah gambar dengan copy dan paste. Gambar sudah muncul, dan link judul filmnya pun sudah muncul. Tetapi sayang ketika aku mau publish malah muncul tanda merah yang bilang dan tidak membolehkan aku melakukan sesuatu di sana. Aku gak mengerti.

Tapi sekarang ok malah bisa? Padahal aku melakukan hal yang sama. Dan filmnya juga sama Sorry For Your Loss/ Jadi apa yang salah?

Kalau Bisa Putar Balik!

Ada suatu tujuan perjalanan yang ada di catatan hidupku. Pastikan kamu mau mengerti. Aku dan kamu jelas tidak akan pernah sama. Namun aku berharap kita bisa menyelaraskan apa saja perbedaan di antara kita itu agar selanjutnya kita tetap berjalan seiring dan sejalan.

Tak salah kalau kamu kecewa dengan kondisi kebersamaan kita selama ini. Aku sudah pernah merasa bahkan juga mendengar langsung dari dulu ketika kamu mulai membanding-bandingkan aku dengan orang yang lain. Tak apa. Aku maklumi masalah itu pada saat itu juga. Aku belajar mengeja sifatmu.

Waktu berjalan sekian lama. Meski aku berharap dan berusaha sekeras yang aku bisa agar bisa mengubah keadaan, aku terbentur pada suatu kenyataan. Aku bukan siapa-siapa yang bisa diandalkan.

Di baliknya ada garis tangan

Aku seperti orang linglung. Tak hanya itu, aku merasa asing.

Aku pun ingin hidup bahagia seperti orang lain. Minimal aku berharap bisa melakukan satu hal yang baik demi kebersamaan kita. I need a good to do for all of us. Tahu maksudnya?

Balik menjadi bayi lagi?

Let’s talk, will you?

Apa Artinya Seragam!

Pernah teringat dengan sebuah adegan pada novel “Julius Caesar” karya Shakespeare yang terkenal itu. Saya tidak membaca banyak. Tetapi adegan pertama ketika seorang prajurit istana yang menginterogasi sekelompok orang yang tidak berseragam berkerumun di sekitar pasar. Heboh dan seru ceritanya. Begitulah kalau orang yang punya aturan ngobrol dengan orang yang tidak usah memakai aturan, yang kalau di daerah saya, Bojonegoro disebut “nyamin!, maklum karena begitulah budaya orang Samin.”

credited from https://www.pdfdrive.com/julius-caesar-e18877698.html

Kalau mengerti bahasa Inggris, saya rasa tak perlu saya menerjemahkan. Intinya, saya mencoba mengingat peristiwa pagi tadi, yaitu ketika istri saya menanyakan kenapa saya tidak memakai seragam. “Kenapa seragamnya tidak dipakai sekalian?” Saya diam saja. Tetapi tak lama kemudian saya menjawab, “Kalau saya masih tetap menjadi ‘guru’ mungkin saya pakai sekarang. Saya kuatir nanti dianggap ‘guru’ sama orang-orang.” Jadi saya masih saja ingat dan berasa tidak nyaman dengan status kerja sekarang. Pernah jadi guru, dilepas statusnya dan dialihkan menjadi JFU yang bukan guru. Terasa sakitnya.

Dari situlah saya teringat dengan dialog orang-orang tempo dulu. Mereka, ternyata sudah meributkan persoalan baju seragam sebagai ciri status kerja yang dijalani. Tidak memakai seragam bisa saja dibilang: bodoh, malas atau pengangguran. Sakit tidak? Bagi mereka yang tahu, ya biasa-biasa saja. Tidak ada masalah yang perlu diributkan sampai harus merasa sakit hati segala.

Tetapi dalam urusan sosial sungguh berbeda permasalahannya. Masyarakat umum tidak pernah peduli dengan urusan perasaan. Mereka hanya mengenal dengan aturan dan norma susila, dimana orang yang tidak mengindahkan akan dikenai sanksi sosial–minimal dengan cemoohan. Kalau hukum sosial sudah diterapkan, kita yang akan merasakan beratnya.

Balik lagi ke masalah bisik-bisik saya dengan istri di pagi ini. Saya memang merasa tidak ngeh kalau terlalu ketat menerapkan tatanan sosial, khususnya untuk masalah seragam. Menjadi guru dan dianggap guru adalah persoalan yang berbeda. Saya tidak mau hanya dianggap guru. Apalagi hanya karena saya memakai seragam seperti seragam guru!

MTs Negeri 5 Bojonegoro, 23 Nopember 2020

Hati Yang Tidak Pernah Mengeluh

Inilah sebuah perjalanan yang penuh berkah dan kenikmatan. Kamu hanya tinggal menjalaninya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebab “Allah beserta orang-orang yang beriman.”

Masih ingatkah ketika Chrisye belajar mengeja bentangan sunyi dan senyap dunia di saat mulut terkunci?

Tak perlu disesali apa yang terjadi di masa lalu. Kita hanya perlu bangkit dan menata kembali hidup ini sesuai dengan perintah agama. Kita mau jadi orang yang tidak diharapkan bertemu dengan Sang Maha Pencipta kelak di hari perhitungan amal. Makanya, pun benar kalau kita harus bersabar.

Allah tetap yang paling kepada hamba yang bertakwa. Allah pula yang akan melapangkan dada sehingga bisa bisa tetap tegar menjalani fitrah hidup di dunia fana ini. Sekarang kita sedang menjalani ujian, esok juga ujian dan esoknya lagi. Apa yang dicemaskan?

Dengarkan kembali, “Kalian itu sudah masuk sebagai umat terbaik. Tentu saja syaratnya hadir di lingkungan manusia dengan mengarahkan pada kebaikan dan mau mencegah adanya kejahatan. Jangan mengada-ada lagi dengan menjadi orang dholim.

Over Loud Noises

Ternyata berpikir jernih itu agak sulit dilakukan kalau di sekitar kita ada banyak suara bising. Aku yakin kalian mengerti maksud pernyataan ini. Aku benar bisa menikmati kalau ada musik mengalun dengan merdu. Bagaimana kalau banyak orang ngobrol yang kita sendiri tidak jelas arah pembicaraannya. Apalagi kalau kita terlibat di dalamnya.

Bojonegoro, 17 Nopember 2020

Setelah Itu, Disyukuri Saja

Memang tak ada yang sempurna, tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dan, dunia ini tetap akan berjalan sebagaimana yang dikehendaki sendiri oleh Sang Penguasa alam semesta. Diterima atau tidak diterima, semua berjalan begitu saja tanpa menunggu persetujuan kita. Allah memang benar-benar maha berkehendak. Terserah Allah sajalah.

Aku sekarang tidak di kantor lagi. Setelah empat tahun aku kembali ke sekolah, meski dengan posisi yang beda. Aku tidak ditugasi sebagai guru bahasa Inggris seperti dulunya, maksudnya seperti yang aku suka. TMT surat keputusan ini adalah per 1 Oktober 2020. Kata terakhir yang diberikan oleh Pak Suhaji saat itu, “Disyukuri saja Pak Nugroho!” Sejenak aku diam. Tapi serentak bibirku terbuka dan mengucap sebuah tanggapan. “Seperti lagu anak-anak muda saja.” Satu ungkapan itu tidak terkendalikan olehku. Kadang aku bersikap seperti orang yang tak tahu aturan. Ngomong dengan pejabat juga rasanya bebas tidak punya batasan.

Bapak Suhaji memang orang baru di lingkungan kantor kemenag Bojonegoro. Aku saja baru sempat ngobrol berdua dengan beliau sebanyak tiga kali. Hari pertamanyaaku tak berniat untuk ketemu. Jauh hari setelah pelantikannya aku baru memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan pejabat ini. Akhirnya aku curhat tentang apa saja yang terkait kondisi kerja di kantornya. Begitu cerita singkatnya. Aku sudah berganti tempat sekarang.

Kepindahan tugas kerja yang sekarang memang tidak seperti angan-angan yang ada di pikiran. Aku mau banget balik lagi menjadi guru. Sementara itu rejeki berupa surat tugas yang aku terima tetap sebagai staff. Mereka bilang sulit kalau balik menjadi guru. “Terlalu lama jedanya. Kalau memaksa harus mengurusnya di Jakarta.” Panjang ceritanya. Yang sempat tersirat adalah bahwa aku adalah orang yang tidak stabil kejiwaannya. Ada kekhawatiran aku akan kumat lagi. Begitulah prasangkanya.

Aku bukan diriku sendiri

Sebesar apa pula sebuah titik kecil itu biasa mengatakan, “Inilah aku!” Aku hadir kalau memang dianggap perlu, dan kalau tidak perlu semuanya akan menjadi milik bersama. Analogi ini pun salah ketika disadari bahwa sebenarnya “aku” tidak berkuasa apa-apa. Bahkan untuk hidupnya sendiri. Ada kekuasaan besar yang menguasai dan memberi pengaruh pada kehidupannya. Aku bukan siapa-siapa.

Aku bisa muncul dan bisa tenggelam. Suatu saat ada dorongan besar di dalam diri ini yang mengatakan perlunya aku bersuara dan berbuat sesuatu yang bermakna. Wujud dorongan itu tak kasat mata sehingga orang lain menganggap tak ada bedanya. Antara ada dan tiada, namun pengaruh dorongan itu luar biasa. Aku memerlukannya.

Bacaan yang baik untuk seorang guru

Ketahuilah, setiap saat orang perlu mencari referensi apik untuknya agar bisa menjalani hidup tanpa takut dan tanpa ragu. Inilah nilai yang aku percaya. Hal ini tidak mungkin lagi dielakkan. Aku sudah terbiasa dengan adat yang melek bacaan ini.

Ternyata aku sependapat dengan Gus Dur yang bilang “tidak perlu dituliskan” saja. Apa saja yang bisa dilafalkan di pikiran dan di hati, itulah bacaan. Tentu saja, pada taraf yang masih latihan lisan harus bisa mengucapkan dan melafalkan bacaan-bacaan itu. Kata demi kata yang melintas di pikiran adalah bacaan. Kalimat yang berkesan cukup dalam di hati adalah bacaan pula. Bibir yang dengan tegas menyuarakan adalah bukti ketegasan bacaan hidup kita.

Jangan pernah bermain-main dengan pikiran dan hati. Karena kita adalah manusia, maka hati dan pikiran adalah sarana protokoler yang mengarahkan acara kehidupan entah maunya bahagia atau bahagia selamanya.

Ingat dengan ungkapan “Garbage In, Garbage Out!” yang pernah terdengar pertama kali sewaktu belajar teknologi informatika? Hidup ini sejalan saja. Begitu baik yang menjadi umpan, maka baik pula ikan yang didapat. Kalau buruk? Jangan berharap dengan yang baik-baik. Mengalirkan kata-kata yang baik adalah sesuatu yang sangat dianjurkan.

Pilihlah bacaan yang baik. Kenapa sih? Bayangkan dengan orang-orang yang suka sekali mengumpat. Apa sih yang dia ucapkan kalau dia sedang marah? Kampret! Sontoloyo! Monyet! Kerbau! Anjing! Kodok! Cebong! Genderuwo! Wah, jadi ahli ruapanya. Semua yang buruk akan berdatang dan efeknya akan membuat pikiran lebih kalut. Semakin tidak suka. Semakin marah. Semakin benci saja. Padahal, kata-kata yang keluar dari mulut seseorang adalah cerminan apa yang ada di hati dan pikiran. Kalau sukanya itu hanya umpatan-umpatan kasar, berarti kita ini orang yang kasar juga.

Peringatan bersahaja saja. Jangan mengumpat.

Sekarang ini menjadi titik balik. Aku jadi kepikiran kata-kata baik apa yang seharusnya menjadi perbendaharaan hidup kita sehari-hari. Jangan sekarang, ah! Aku masih harus berpikir dulu. Aku perlu mencari referensi juga.

balance business cobblestone conceptual
Photo by Pixabay on Pexels.com

Ramadhan 2019 Itu Ketiganya

Sudah berapa lama tidak mengajar di sekolah? Kenapa harus keluar dari situ kalau kamu memang tak suka? Itulah dua pertanyaan yang sering muncul dan ditanyakan kepadanya.

Bukan karena dia memang bersalah atau justru tidak bisa menjelaskan secara terbuka. Bukan dua-duanya. Dia sudah sering menceritakan kejadian-kejadiannya dengan runtut, mulai dari awal sampai akhir sehingga dia pun terpaksa meninggalkan tugasnya sebagai guru. Kepada siapa saja dia akan mengungkapkan fitnah serta ketidakadilan yang dia alami. Terlalu sering. Dan dia putuskan berhenti mengumbar kata-kata secara lisan. Cukup, katanya. Ini bukan gayanya lagi. Dia tidak mau lagi menjadi sakit hatinya melepuh dan menjadi borok.

Tahun 2016 adalah awal penistaan jati diri guru. Dia berstatus guru bahasa Inggris di sekolahnya. Waktu itu orang yang meniti karir mulai dari staff administrasi memimpin sekolah. Dia bukan pimpinan yang disukai anak buahnya karena sikapnya yang arogan dan suka memaksakan kehendak.

 

Sabar, Kapan Batasannya?

Semalam aku sudah memulainya. Tema yang tampak seperti orang-orang suci aku tuliskan sekitar jam 0.00 WIB. Satu tema yang membahas perenungan.

Sekarang sudah siang, jam di laptop saja mengatakan 14.00. Tahu kan, suasana puasa di hari pertama. Jangan tanya lagi! Ya begitulah. Mau makan, terhalang niatan puasa. Mau tiduran, eh ini masih jam kerja. Aku tahu, teman-teman satu ruangan berlagak sibuk. Sepertinya begitu. Tidak ada yang benar-benar menyelesaikan tugas kantor. Kalau aku kan memang tidak pernah dikasih pekerjaan. Aku sudah makan gaji buta memang.

Tahu kebiasaan kalau hari sudah siang begini?Kalian ngapain? Cari makanan. Ngopi? Oh, benar. Ada yang suka tidur saja. Terus?

Sebentar! Dari tadi omongan seperti melantur ke mana-mana. Kapan judulnya itu akan dituntaskan dalam sekilas ulasan saja? Kapan?. Aku bilang, “Sabar!” Sampai kapan? Ya, sampai kapan? Bisa sabar? Sampai kapan? Tidak, aku hanya bertanya, “Bisa sabar?”

20190506_074934

Entahlah. Kalian ini tanya-tanya terus. Aku sendiri tak tahu. Minimal biarkan mobil kepala kantor hilang dari peredaran. Biar kepalanya pulang.

 

Bojonegoro, ……2019

Ketika aku menghadap ke arah Erma